Director's Statement

Daniel Ziv

English


Daniel Ziv
JALANAN Director

I was drawn to the story of JALANAN not because of any ambition to become a filmmaker or a pre-meditated quest to find a ‘good topic’ for a documentary, but because one day on the streets of Jakarta I stumbled across a gang of unique individuals whose amazing life story I could not ignore.

It was a story that happened to contain everything a documentary filmmaker could ask for: contagious personalities; compelling social justice issues; individual struggles that shed light on universal issues; cheeky humor; a colorful urban sub-culture, and - as an added bonus – a built-in soundtrack of wonderful original music.

When I started out on this project, I thought I was going to shoot a short film about the busker community, their work, their world, their music. But over time it became clear to me that by witnessing their lives so intimately, I was also being exposed to a fascinating and quite important story about Indonesia, a sort of snapshot of the post-reformasi era from the perspective of those caught in that very uncomfortable crack between two phenomena that we celebrate so often: democratization and globalization. My pengamen were feeling both these things very profoundly, but benefiting from neither.

Although the film contains moments of sadness, struggle and injustice, these are far outweighed by moments of engaging humor, catchy music, beauty and hope. This isn’t the type of documentary that feeds off tragedy. The stakes are not as high as in some stories – this is not about thousands of lives being threatened, nor are people dying every day in this community. And although living conditions for these buskers are very basic, this isn’t even about the poorest of the poor. Rather, JALANAN traces the lives of a forgotten, marginalized community that slips through society’s cracks. The dilemmas and conflicts here represent a huge segment of urban population in the developing world, easily tens of millions in the case of Indonesia, certainly hundreds of millions more across Asia. This film is meant to give them a voice, to raise awareness for their conditions and struggle.

While there is much for us to learn from JALANAN and its protagonists, the film is structured and styled so that it never feels ‘educational’ or heavy or laborious to viewers. I see no problem with viewers tapping their feet or laughing out loud and enjoying a film even if it’s about the marginalized poor. To me this is the first step to truly identifying with them, and JALANAN aims to bring the audience into this colorful world as participants rather than merely gazing down upon it.

Their story is also meant as a provocative mirror through which we, in the more affluent part of the world, can reflect on our own lives and values, learning from the day-to-day perspectives and wisdom of the characters in Jalanan. Ho’s favorite mantra – as he bids farewell to bus passengers after entertaining them (or outraging them) with his songs, is that “Life must be fully lived!”

Surely advice that all of us – rich or poor – would be wise to heed in this tumultuous age.


Bahasa Indonesia


Daniel Ziv
Sutradara JALANAN 

Saya tertarik dengan cerita JALANAN bukan karena berambisi untuk menjadi pembuat film ataupun sekedar mencari ‘topik menarik’ untuk sebuah film dokumenter, tetapi karena suatu hari di jalanan Jakarta saya tidak sengaja menjumpai sekelompok individu dengan cerita perjalanan hidup menakjubkan yang tidak dapat saya acuhkan.

Cerita mereka adalah sebuah cerita dengan segala macam bahan racikan yang diinginkan seorang pembuat film dokumenter: pribadi yang menarik, isu ketidakadilan sosial yang mencengangkan, perjuangan individu yang memberi penerangan pada permasalahan universal, gurauan tak senonoh, sub-budaya perkotaan penuh warna, dan – sebagai bonus tambahan – lagu-lagu orisinil luar biasa yang terdapat dalam film JALANAN. 

Pada saat saya mulai mengerjakan film ini, saya berpikir untuk membuat sebuah film pendek tentang komunitas pengamen jalanan, dunia, hidup serta karya musik mereka. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi sadar bahwa dengan mengamati kehidupan mereka dari jarak yang begitu dekat, saya menemukan sebuah cerita yang begitu menarik dan penting untuk Indonesia, sebuah cuplikan pendek dari era pasca reformasi dari kacamata mereka yang terjebak dalam celah-celah ketidaknyamanan dari dua fenomena yang seringkali kita rayakan: demokratisasi dan globalisasi. Para pengamen yang saya angkat dalam film ini merasa begitu bangga akan dua hal tersebut, namun tidak mendapatkan apa pun dari keduanya.

Meskipun dalam film ini terdapat banyak momen mengharukan, perjuangan serta ketidakadilan, namun dalam film ini lebih banyak terdapat humor yang mengikat, musik yang mudah diingat, keindahan hidup dan harapan. Film ini bukanlah film yang menjejali penonton dengan tragedi. Taruhannya tidak setinggi di cerita lain – ini bukanlah cerita mengenai ribuan nyawa yang terancam, ataupun orang-orang yang mati tiap harinya dalam komunitas ini. Dan meskipun kondisi kehidupan para pengamen ini sangat mendasar, cerita bahkan bukan mengenai orang-orang termiskin dari golongan bawah. Sebaliknya, JALANAN menjelajahi kehidupan dari kaum marjinal yang terlupakan dari perhatian kehidupan bermasyarakat. Dilema dan konflik yang ada dalam film ini mewakili gambaran besar dari populasi urban di negara berkembang, khususnya 10 juta orang di Indonesia, dan ratusan juta lainnya di seluruh Asia. Film ini bermaksud untuk menyuarakan mereka, meningkatkan kesadaran akan kondisi dan perjuangan mereka.

Sementara masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari JALANAN dan para tokoh protagonisnya, film ini disusun dan didandani sehingga dirasa tidak ‘menggurui’ ataupun terlalu ‘berat’ bagi para penonton. Saya tidak melihat ada masalah mengenai orang-orang menghentakan kaki atau tertawa keras dan menikmati sebuah film meskipun film tersebut bercerita mengenai kelompok miskin marjinal. Bagi saya hal itu merupakan langkah awal untuk benar-benar mengenal mereka, dan JALANAN bermaksud membawa penonton ke dalam dunia penuh warna sebagai peserta, bukan sebagai pengamat dari atas.

Kisah mereka juga merupakan cerminan provokatif di mana kita, dari bagian dunia yang lebih mapan, dapat merefleksikan hidup dan nilai-nilai yang kita anut, belajar dari sudut pandang sehari-hari dan kebajikan dari para karakter dalam film JALANAN. Mantra favorit Ho – yang selalu ia katakan kepada para penumpang setelah menghibur mereka (atau menyindir) dengan lagu-lagunya, adalah “Hidup itu harus dihidupkan!”

Tentunya sebuah saran yang sangat berguna untuk kita – kaya atau miskin – lakukan di era yang menggemparkan seperti saat ini.