Hari Ini Jakarta. Besok (Semoga) Kota-kota Lain di Nusantara!

Situasi hati para anggota tim kecil JALANAN belakangan ini mirip dengan alur cerita film JALANAN itu sendiri: terombang-ambing antara seketika menjulang riang, jeblok di kenestapaan, kemudian kembali melesat girang.

Bagaimana tidak, terhitung sejak 3 minggu lalu, sang sutradara Daniel Ziv, beserta tim (rindu) suksesnya, Lakota, Niken, Lala dan saya; blingsatan mencoba mencapai satu tujuan yang lumayan ambisius: membuat orang kepincut lalu datang berbondong-bondong menonton JALANAN. Kenapa ambisius, sebab usaha membikin masyarakat terpikat oleh JALANAN relatif kurang didukung oleh pengiklanan masif di lokasi-lokasi strategis (seperti umumnya film-film lokal bermodal raksasa). Belum lagi tergencet oleh rentang waktu yang mepet. Hampir semua persetujuan kerja baru disetujui selang beberapa pekan sebelum Pekan P, cuma segelintir hari menuju Hari H. Ditambah lagi problematika paling klasik di ranah berkesenian: dana cekak. Modal tim JALANAN, well, cuma segumpal kebanggaan pekat pada produk yang hendak dilempar ke publik, juga jejaring perkawanan yang solid sekaligus apresiatif.    

Dengan minimnya jumlah pasukan serta kendala finansial sedemikian rupa, tim JALANAN dengan sekuat tenaga mengerahkan sumber daya socmed yang dimiliki. Sahabat dan kolega dimohon/diminta/didorong/diiming-imingi/dipaksa/diintimidasi untuk meluangkan waktu berharga mereka agar menonton film JALANAN. Tim JALANAN tawakal bermuka badak merajuk para rekan untuk datang menonton karena dibalut keyakinan bahwa film JALANAN memang patut diberi apresiasi tinggi. Tim kecil JALANAN, seperti disebut di atas, memiliki kebanggaan adiluhung terhadap film JALANAN. Orang-orang yang direcoki agar menyaksikan filmnya, hampir bisa dipastikan akan jatuh cinta atau minimal menyukai film JALANAN. 

Cobaan paling pertama datang pada 28 Maret. Film JALANAN diberi kesempatan untuk diputar di @america, lantai 3 Pacific Place, ruang kultural milik kedubes Amerika Serikat. Artinya kami harus bisa meyakinkan kawan kami—utamanya aktivis jejaring sosial dan media, jenis undangan khusus malam itu—untuk datang (dan memenuhi kapasitas 150an orang di @america). Berhasilkah kami? Di urusan menjungkirbalik emosi penonton kami sukses besar. Sejak menit pertama orang-orang yang hadir sudah dibikin merem-melek diguncang-guncang dinamika kehidupan Boni-Ho-Titi. Di isu membludaki @america dengan penonton? Lihat saja foto-foto di bawah ini…

Penonton di sisi kiri di @america, beberapa menit sebelum penonton yang telat datang selonjoran di karpet.

Penonton di sisi kiri di @america, beberapa menit sebelum penonton yang telat datang selonjoran di karpet.

Musisi pengisi soundtrack berpose bersama 'bintang film' serta sutradara film JALANAN

Musisi pengisi soundtrack berpose bersama 'bintang film' serta sutradara film JALANAN

Cobaan berikutnya adalah pada 8 April. Film JALANAN dibukakan pintu oleh 21 Cineplex, dipersilakan untuk dipertontonkan di XXI Epicentrum, Kuningan. Teater ini duh sungguh besar. Mampu menampung 300 orang. Sekali lagi kami harus mampu menjustifikasi ke kolega-kolega kami bahwa film JALANAN pantas diluangkan waktu untuk menontonnya. Lalu, sukseskah kami menggiring, utamanya kawan-kawan media (online, cetak, televisi), untuk datang? Membuat mereka para kolega pasif-agresif, tertawa-menangis-tertawa lagi, kami menuntaskannya dengan gemilang. Bagaimana dengan kuantitas, semelimpah apa orang yang datang? Simak saja foto berikut…

Penonton yang membludaki XXI Epicentrum

Penonton yang membludaki XXI Epicentrum

Nah, cobaan terberat datang pada 10 April. Saat dimana film JALANAN diputar perdana di 3 bioskop di Jakarta yaitu XXI Plasa Senayan, Blok M Square, dan Blitz Megaplex Grand Indonesia. Jika sebelumnya yang kami undang/seret paksa untuk datang adalah para sahabat dan kolega kerja, orang-orang yang notabene kami kenal (kenal dekat, kenal muka, kenal maya, kenal sama temannya, kenal sama temannya yang kenal sama teman saya, dst), maka kali ini kami mesti bisa meyakinkan orang-orang yang kebanyakan bukan berada di lingkaran pertemanan kami alias orang-orang 'asing'. Sementara itu kami tak terlalu bisa agresif berpromosi besar-besaran macam memasang baliho segede godzilla di jalan-jalan utama Jakarta atau menggempur televisi dengan iklan tanpa henti sekadar untuk menggapai atensi masyarakat luas. Kami, sekali lagi, hanya memiliki jejaring sosial yang tangguh serta film yang bagus. Itu saja. Memang kami tetap beriklan di beberapa media berpengaruh, dan cukup gencar—walau tak segede dan beringas godzilla. Namun apakah itu cukup? Di hari pertama, jumlah penonton cukup banyak, tapi sejujurnya masih di bawah ekspektasi kami. Di hari kedua, jumlah sedikit meningkat tapi belum juga mencapai harapan kami. Di hari ketiga? Sungguh mengejutkan, jumlah penonton bahkan jauh melebihi harapan kami. Terutama Plasa Senayan, full-house! Penuh sesak! Dukungan jejaring sosial yang kuat akhirnya menampakkan taringnya. Sahabat-sahabat kami, kenalan-kenalan kami, orang-orang 'asing' yang terpesona dengan JALANAN, silih berganti mengungkapkan seberapa terkesima mereka atas film yang memenangi 'Best Documentary' di Busan Film Festival tahun lalu ini. Hingga akhirnya pribadi-pribadi yang membaca komentar-komentar bernada kagum dan salut tersebut terketuk hatinya lalu memutuskan untuk pergi ke bioskop untuk menonton JALANAN. Promosi mulut ke mulut ini sungguh menjalar efektif plus berujung positif: rata-rata komentar mereka mengerucut pada seberapa menginspirasi film ini terhadap sudut pandang mereka tentang kehidupan. Bahwa kesengsaraan bukanlah alasan untuk menangis dan menyerah serta harus tegar dihadapi. Bahwa hidup harus dihidupi.

Theatre 8 Plasa Senayan penuh sesak!

Theatre 8 Plasa Senayan penuh sesak!

'Bintang film' JALANAN serta musisi senior Oppie Andaresta dan Kikan Namara sama-sama bangga bisa foto bareng

'Bintang film' JALANAN serta musisi senior Oppie Andaresta dan Kikan Namara sama-sama bangga bisa foto bareng

Semoga dengan sambutan sedemikian gempita bisa membuka pintu ke berikutnya bagi film JALANAN: berlanjut diputar ke kota-kota lain di Indonesia!

______________

Gegap gempita kekaguman kawan-kawan terhadap film JALANAN beberapa di antaranya:

Jalanan: Film Subversif tentang Jakarta Tercinta

• ADA APA DI JALANAN?

Review Film: "Jalanan (2014)"