Postcard from Yangon: JALANAN director Daniel Ziv reports from Myanmar

Postcard from Yangon: JALANAN director Daniel Ziv reports from Myanmar

Last night in Yangon we experienced one of our most powerful overseas JALANAN screenings so far. It was our second showing at the Burma Human Rights Human Dignity International Film Festival, to a packed theater at the Junction Square shopping mall cinema in Yangon. Burmese from a range of ages and social classes had gathered to watch our tale of street musicians in faraway Indonesia, and JALANAN editor Ernest Hariyanto and I had no idea what the reactions would be. 

Read More

Titi & Ho Berpartisipasi dalam Kampanye Kreatif Bersama Musisi-musisi Ternama Indonesia

Titi & Ho Berpartisipasi dalam Kampanye Kreatif Bersama Musisi-musisi Ternama Indonesia

Sutradara JALANAN, Daniel Ziv dalam berbagai kesempatan mengatakan, "Meskipun dimarjinalkan oleh sistem dan pemerintahan yang korup di negeri ini, Boni-Titi-Ho tidak menempatkan diri sebagai korban. Mereka memiliki hati yang mulia dan semangat hidup yang tinggi. Mereka juga tertawa jauh lebih sering daripada orang-orang kaya yang saya kenal. Mereka merayakan hidup."

Read More

Urban Policy Changes Underway After Special Screening Hosted by Jakarta's Acting Governor 'Ahok' at City Hall!

Urban Policy Changes Underway After Special Screening Hosted by Jakarta's Acting Governor 'Ahok' at City Hall!

Dear friends,

Following an unprecedented Indonesian theatrical run of 40 consecutive days, our little JALANAN has entered a new and very unexpected sphere of influence: the Governor's office, with specific policy changes affecting Jakarta's urban poor now likely to happen.

On Wednesday afternoon, Acting Jakarta Governor Basuki Tjahaja Purnama ('Ahok') hosted a gala screening of JALANAN for hundreds of senior government officials at Balai Kota/City Hall. At the end of the screening Pak Ahok was in tears, and immediately vowed to shake up many of the city government's outdated, inhumane policies toward the marginalized poor. 

Read More

Hei Penonton JALANAN di Bioskop, Kalian Keren!!

Hei Penonton JALANAN di Bioskop, Kalian Keren!!

10 April 2014. Adalah sebuah tanggal yang sangat berarti bagi kami, tim kecil JALANAN. Pada hari Kamis itu, untuk pertama kalinya JALANAN ditayangkan di tiga bioskop di Jakarta untuk umum. Gembira sekaligus was-was yang sudah kami rasakan sejak sebulan sebelumnya (iya, kami hanya punya waktu sebulan untuk mempersiapkan rilis JALANAN di bioskop!) memuncak pada hari itu. Betapapun kami yakin bahwa JALANAN pantas mendapatkan kesempatan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa kami juga merasa kecil hati, mengingat sebegitu tidak familiarnya publik dengan film dokumenter-di bioskop pula.

Read More

Sepucuk Surat untuk Indonesia dari Sutradara JALANAN, Daniel Ziv

Sepucuk Surat untuk Indonesia dari Sutradara JALANAN, Daniel Ziv

Dalam 6 tahun terakhir ini saya bekerja bersama sebuah tim kecil untuk membuat sebuah film yang sangat istimewa tentang Jakarta dan Indonesia. Film berjudul JALANAN yang dibuat dengan tulus dari hati ini bercerita mengenai kehidupan 3 orang muda dengan karakter luar biasa, yang juga telah menjadi sahabat saya.

Boni, Ho dan Titi adalah 3 orang pengamen karismatik jenaka dan berbakat dengan cerita kehidupan menakjubkan yang tidak bisa tidak harus diungkapkan ke layar lebar. Kalian akan tersentuh oleh humor, musik, kearifan, serta keteguhan dan semangat mereka terlepas dari keadaan serba kesulitan yang mereka hadapi.

Read More

Hari Ini Jakarta. Besok (Semoga) Kota-kota Lain di Nusantara!

Hari Ini Jakarta. Besok (Semoga) Kota-kota Lain di Nusantara!

Situasi hati para anggota tim kecil JALANAN belakangan ini mirip dengan alur cerita film JALANAN itu sendiri: terombang-ambing antara seketika menjulang riang, jeblok di kenestapaan, kemudian kembali melesat girang.

Bagaimana tidak, terhitung sejak 3 minggu lalu, sang sutradara Daniel Ziv, beserta tim (rindu) suksesnya, Lakota, Niken, Lala dan saya; blingsatan mencoba mencapai satu tujuan yang lumayan ambisius: membuat orang kepincut lalu datang berbondong-bondong menonton JALANAN.

Read More

Rilis Pers Resmi Film JALANAN

Sebuah film tentang Indonesia, musik jalanan, asmara, penjara, politik, seks, korupsi, hamparan sawah, globalisasi dan patah hati!

 

RILIS PERS

Jika dirangkum dalam sepucuk kalimat ringkas-padat, JALANAN adalah sebuah film dokumenter yang menggunakan musik sebagai penghantar cerita, diangkat dari kisah nyata, dengan cengkok hiburan yang kuat serta alur cerita yang memikat—dipenuhi drama juga humor cerdas, kocak, terkadang nyerempet jorok—sehingga nyaris tak terasa bahwa ini adalah film dokumenter biasa (yang umumnya berat dan cenderung membosankan). 

Tayang pertama kali pada Oktober 2013 di festival film terbesar di Asia, Busan International Film Festival di Korea, dan memenangkan ‘Best Documentary’, film ini bertitik pusat pada lika-liku hidup tiga pengamen jalanan Jakarta, Boni, Ho dan Titi. Rasa kesepian, duka kematian, dorongan seksual, meriah perkawinan, kisruh perceraian, nelangsa masuk bui, gemuruh reformasi, gempuran globalisasi; serbaneka pahit-manis-asin-getir-garing keseharian mereka diungkap polos layaknya potret kaum tersisih, fenomena amat khas bernama Indonesia, disuguhkan gamblang telanjang.

Dengan topik yang sedemikian relevan dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat—membedakannya dengan kredo dokumenter yang kerap terkesan terlalu eksklusif—JALANAN akhirnya diberi kehormatan untuk diputar di bioskop-bioskop umum/komersial.  Mulai 10 April 2014 film bakal tayang serentak di Cineplex 21 Jakarta, tepatnya XXI Plasa Senayan dan XXI Blok M Square, juga Blitz Megaplex Grand Indonesia. Sementara itu dalam skala internasional, JALANAN sedang dikompetisikan di festival-festival film kelas wahid di Asia, Eropa, Amerika serta Timur Tengah. Film dokumenter bisa masuk bioskop umum? Barangkali JALANAN bukan yang paling pertama, namun pantas ditaburi gempita konfeti karena jarang sekali dalam sejarah persinemaan Nusantara sebuah karya dokumenter mampu menembus layar komersial.

Patut pula dicatat dari JALANAN bagaimana kaum terpinggirkan macam Boni, Ho dan Titi, disuguhi ruang nyaman menjadi dirinya sendiri sekaligus menjadikannya suri tauladan bagi kaum yang lebih beruntung; seberapa patut ditiru trio pengamen itu di sikap pantang menyerahnya terhadap kejamnya ibukota, tiga pengelana yang merangkul ketidakberuntungan dengan tawakal lalu bijak menggandengnya sebagai karib sehari-hari.

Selain itu proses pengambilan gambar JALANAN oleh sang sutradara, Daniel Ziv, menghabiskan waktu hampir 5 tahun (!) lamanya. Bujangan cukup ganteng asal Kanada ini bersikeras terjun ke gorong-gorong bawah jembatan, berlama-lama menongkrongi para tokoh utama, menyusup hingga ke pedesaan Jawa, tanah asal mereka; semata agar dapat menangkap rupa-rupa momen penting (dan gak penting) di kehidupan Boni, Ho dan Titi. Demi menghindari rekayasa peristiwa sebagaimana sering tercuat dari reality show. Agar nihil akrobat wajah dangkal dan gestur duh-gusti lebay khas sinetron.

Cengkok hiburan yang kuat serta alur cerita yang memikat, seperti disebut di awal, terpancar dari padu padan keunikan masing-masing karakter di film, disertai soundtrack musik nan asyik lagi orisinil baik karya Boni, Ho dan Titi pribadi dan disenandungkan sendiri, juga oleh musisi-musisi muda berbakat Indonesia yang sengaja dihadirkan lagu-lagunya di film ini sebagai penguat penyampaian pesan. Dengan iringan musik menarik di hampir sepanjang film digambarkanlah seberapa ogah mereka tunduk pada kenestapaan, senantiasa pasrah sekaligus gigih bercampur lentur menyiasati kezoliman nasib. Gaya nrimo namun di saat yang sama menolak menyerah itu rupanya jitu menghipnotis penonton untuk justru tidak mengasihani mereka tapi malah bersimpati menyemangati—dan bisa jadi tanpa disadari turut termotivasi.

Keterikatan juga penghormatan kepada Boni, Ho dan Titi, oleh audiens, seperti disebut di atas, terekam jelas saat JALANAN diputar di acara Ubud Writers and Readers Festival, salah satu writers festival terbaik di dunia, selang beberapa hari setelah Busan. Di detik film berakhir, tanpa ada yang mengomando, sekitar seribuan penonton serempak memberi standing ovation lalu bertepuk tangan amat lama dan sangat panjang (“Boni, Ho dan Titi, …Kami cinta kamu!!!”). Histeria sedemikian rupa seolah mengamini bahwa sosok-sosok termarjinalkan tersebut memang pantas untuk disorot cahaya kamera yang lebih terang dan layak kisah hidupnya diangkat ke layar lebar plus disuguhi produksi film begitu wah bak film kolosal.

Boni yang walau tak bisa membaca dan menulis adalah figur pejuang jujur sekaligus artistik. Ho memang masih kalah secara ekonomi namun sudah menang secara pengalaman dan intelektual dalam menyiasati ibukota. Titi, bukan cuma senyum lugunya membikin pingsan, ia merupakan wanita Indonesia pemberani: bisa dihitung dengan jari jumlah perempuan yang nekat menjadi pengamen. Boni, Ho dan Titi, lewat JALANAN, lewat kisah nyata hidup mereka yang menawan dan pekat merepresentasikan Indonesia, adalah tiga bintang film baru Nusantara.

Nah, seberapa layak JALANAN untuk ditonton? Biar fakta yang berbicara: di festival film terbesar di Asia sudah menang film dokumentari terbaik, di salah satu writers festival paling adiluhung sejagat telah menghipnotis ribuan penonton. Belum lagi di 15 test screening dan 3 pre-screening beberapa bulan silam, di penghujung film banyak penonton bersungut antara heran dan kagum, “Ini kisah nyata apa film drama sih?”

Hore! JALANAN Masuk Bioskop!

Hore! JALANAN Masuk Bioskop!

Seberapa banyak film dokumenter pernah tayang di bioskop umum/komersial di Indonesia? Ada. Tapi bisa dihitung dengan jari di satu kepalan alias ultra jarang. Itu pun gebyar popularitasnya nyaris tiada gaung. Tak terlalu diingat rakyat. Jangan kata di Nusantara, di luar negeri saja masih terbilang sedikit film dokumenter diputar di sinema publik. Itu pun baru lumayan gencar belakangan ini saja, sekitar 2 tahun terakhir.

Read More